
Saya baru saja mengalami suatu dilema; yaitu antara memaksakan kehendak kepada anak atau menahan diri dan menghargai pilihan anak. Tidak mudah memang untuk berlaku fair kepada anak sendiri apalagi anak yang relatif masih kecil. Dengan segala "kekuatan" yang kita miliki dan atas nama kebaikan,
kita sebagai orang tua sering berbuat sekehendak hati kepada anak sendiri. Apalagi ditambah atas nama jerih payah orangtua mencari nafkah, maka mutlak anak musti patuh kepada orang tua!
Ceritanya begini. Anak saya yang paling kecil, Izar, baru selesai sekolah dasar dan harus menetapkan pilihan akan melanjutkan SMP dimana. Hasil Ujian Nasionalnya bagus. Dia termasuk 5 besar di sekolahnya. Dengan bekal nilai yang bagus itu Izar dengan mudah bisa diterima di SMPN 5 dan SMP Salman Al Farisi. Mudah sebenarnya buat saya menetapkan pilihan yang mana. Tapi ternyata yang jadi persoalan adalah pilihan saya tidak sesuai dengan kemauannya! Saya ingin dia masuk SMPN 5, sekolah terfavorit di Bandung dan berstandar internasional sedangkan dia lebih senang masuk SMP Islam Salman Al Farisi dengan berbagai alasannya!.
Proses hingga akhirnya saya setuju - tepatnya mengalah - dengan pilihan anak saya benar-benar penuh pergolakan batin dan pikiran. Sebab saya belum pernah punya kasus seperti ini. Hubungan saya, istri selama ini dengan anak-anak memang sangat cair dan lebih ke arah "pertemanan". Bisa dibilang sangat jarang saya bertindak otoriter dan menunjukkan egoisme saya sebagai orangtua. Tapi dalam hal ini, dalam hal memilih sekolah, ada kegeraman yang tidak biasa. Saya ingin benar-benar ditempatkan sebagai orang yang tidak boleh dibantah. Saya ingin dituruti. Saya ingin didengar dan dipatuhi. "Saya lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depanmu!" begitulah kira-kira isi dalam benak saya saat itu.
Alhamdulillah, egoisme itu belum sempat terlontar. Saya akhirnya memilih untuk menerima pilihannya. Penerimaan ini jelas bukan karena alasannya bagus dan bisa saya terima. Bukan. Apa sulitnya mematahkan argumentasi seorang anak usia 12 tahun seperti Izar. Yang saya lakukan adalah mengalahkan diri sendiri !. Mengalahkan ego dalam diri seorang ayah!. Sungguh itu tidak mudah dijalankan. Sekali lagi tidak mudah. Dan yang lebih berat lagi adalah meyakini bahwa pilihan anak kita adalah pilihan yang terbaik baginya.
Saya juga sadar bahwa keberhasilan seseorang terletak dan melekat pada motivasi dalam diri manusia itu sendiri. Bukan pada sekolah. Bukan pada orang tua. Anak ini telah berani menyalakan api semangat dalam dirinya. Anak ini telah berani mengambil tanggungjawab. Anak ini tidak basa-basi.
Saya teringat pada sebuah cerita tentang tempurung kelapa (Batok Kelapa) dan anak belalang yang disampaikan teman saya Pandu. Dua anak belalang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda. Yang satu di letakkan di bawah batok kelapa dan yang lainnya di letakkan di alam bebas beratapkan langit. Setelah mereka dewasa, belalang yang di dalam batok hanya bisa melompat tidak lebih dari tinggi batok kelapa tadi, sedangkan belalang yang hidup di alam bebas akan mampu melompat setinggi-tingginya.
Artinya marilah kita para orangtua selalu berintrospeksi. Merenungkan kembali apa-apa yang telah kita perbuat kepada anak kita. Janganlah gaya kita, wawasan kita, pengetahuan kita, sikap hidup kita, pilihan-pilihan kita untuk anak, tanpa disadari telah menjadi "batok" bagi perkembangan anak kita. Menurut saya kalopun ada "batok" dalam dunia anak kita hanyalah satu yang diwajibkan: yaitu nilai-nilai agama dan ketaqwaan kepadaNya.
Wahai anakku kalian layak mendapatkan hasil jerih payahmu dan kesabaranmu...tangga kesuksesan sedang kalian daki satu-satu dengan penuh rasa tanggungjawab, berbahagialah dengan pilihan-pilihanmu. It's fair, boy....
14 July 2008
Batok Kelapa.....
label Lakon
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
wow.... bener2 bapak yang bijaksana....
ReplyDelete