26 December 2007

Refleksi : Issue Gempa Bengkulu


Andaikan Professor Jucelino Nobrega Da Luz itu Nabi Nuh, tentunya 300 ribu penduduk itu akan menjadi penduduk Bengkulu yang paling mujur. Bagaimana tidak. Kepatuhan mereka mengikuti ramalannya, membuat nyawa penduduk itu tidak jadi melayang karena gempa dan tsunami. Seminggu sebelum hari yang diramalkan, sebagian besar penduduk Bengkulu telah berbondong-bondong mengungsi dan menyelamatkan diri di tenda-tenda di tempat tinggi dan aman.

Sayangnya dia bukan Nuh! Ramalan Professor Brazil yang super PD alias ngawur itu ternyata (jelas) meleset. Tanggal 23 Desember 2007 tidak terjadi apa-apa. Tapi panggung kebodohan sudah terlanjur digelar. Ya sudah. Padahal kerugian material akibat issue ini tidaklah sedikit. Ribuan tenda, fasum dan ransum telah disediakan Pemerintah setempat untuk menampung pengungsi. Pasar-pasar dan kantor-kantor tutup, sekolah libur dan hampir seluruh kegiatan perekonomian lumpuh. Dan yang pasti, wibawa Pemerintahpun ikut runtuh. Mungkin ini adalah kado terbesar dari Tuhan kepada bangsa Indonesia di penghujung tahun 2007 ini agar kita sejenak merenung dan mengevaluasi diri.

FUNGSI PEMERINTAH
Yang patut direnungkan dan disorot tajam atas timbulnya kehebohan ini adalah Pemerintah dan institusi pendukungnya. Bagaimana mungkin sebuah surat dari orang yang tinggal nun jauh di Brazil sana bisa terdengar di kuping orang seantero Bengkulu? Bayangkan! Ini jelas berawal dari respon seorang pejabat berwenang yang bodoh dan klenik! Bagaimana mungkin issue murahan seperti ini ditanggapi dan dibiarkan beredar tanpa ada usaha klarifikasi dari para aparat Pemerintah?Kasian bangsa ini. Hanya itu yang bisa saya simpulkan. Kasian bangsa ini bila Pejabat Pemerintahnya diisi oleh orang-orang bodoh seperti ini. Dimana IAGI? Dimana LIPI? Dimana Menristek? Dimana ITB? Dimana RRI/TVRI? Kasian bangsa ini. Dalam istilah saya Pemerintah ini tidak nge-grip. Ibarat ban sering slip dan kedodoran. Tidak nggigit. Institusi basa basi yang penuh kegamangan! (Sori ya..habis mangkel pol…!).

RESPON PRIMITIF
Berikutnya yang perlu direnungkan adalah respon warga Bengkulu. Kejadian mengungsi besar-besaran itu menurut saya bukan semata karena kebodohan warga Bengkulu saja. Saya yakin sebagian warga Jakartapun akan memberikan respon yang sama. Sedikit orang yang bisa menggunakan pengetahuan dan kesadarannya ketika dilanda issue besar seperti itu. Mungkin segilintir orang terpelajar atau para geologist. Bagaimana dengan orang kebanyakan ? Apakah mereka bisa tetap bertahan termasuk menahan anak-istrinya untuk tetap diam di rumah sementara orang lain kocar-kacir, saudaranya, tetangganya lari tunggang langgang cari selamat? Sulit memang membayangkannya bila sudah menyangkut urusan nyawa.

Mari kita lihat peristiwa Bengkulu dari kacamata psikologi. Banyak orang mengira bahwa rasa takut adalah kelemahan yang memalukan. Padahal kemampuan takut ini menurut Dan Baker dalam bukunya What Happy People Know - menyebabkan umat manusia masih bertahan di muka bumi hingga kini. Sepanjang periode awal sejarah manusia yang brutal, hanya system rasa takut itu yang mempertahankan nyawa manusia.

Ketika di tengah hamparan rumput luas nampak ada rumput yang bergerak-gerak, manusia zaman batu sudah menyadari adanya bahaya binatang buas dan langsung lari tunggang langgang cari selamat. Tanpa rasa takut umat manusia telah punah . Sementara gara-gara “keberanian” sebagian besar mahluk penghuni bumi ini mengalami kepunahan. Contoh dinosaurus.

Rasa takut membekali manusia dengan sebuah kecakapan mencengangkan untuk bertindak secara spontan begitu isyarat awal dari ancaman hadir. Respon rasa takut otomatis menjadi lebih cepat ketimbang proses berpikir rasional, lebih cepat ketimbang rasa cinta dan lebih cepat ketimbang tindakan lain dari manusia.

Kita di zaman modern ini sudah tidak memerlukan persedian rasa takut yang sangat kuat untuk menjauhkan diri dari bencana alam atau hewan buas semacam itu. Namun meskipun manusia tidak membutuhkan lagi system neurologis rasa takut seperti zaman batu, ternyata kita masih masih memilikinya. Inilah warisan bagi kita sebagai manusia, suka atau tidak suka!

Kejadian Bengkulu itu sebenarnya salah satu contoh respon system neurologis primitive kita. Sedangkan contoh lain bisa dilihat dengan mudah di sekitar kita, tentunya dengan nama dan bentuk yang berbeda. Misal takut kalah dalam pilkada, takut keyakinannya (agama) tersaingi, takut rugi terpaksa menipu, rebutan tempat ibadah, takut kehilangan pekerjaan, takut hilang jabatan, takut tidak terkenal, takut kehabisan tiket pesawat, takut terjebak macet di jalan, takut tidak mampu bayar hutang bank dll.

Ketakutan-ketakutan itu bila tidak disikapi dengan benar akan membawa kita kepada derajat manusia yang lebih rendah, yaitu manusia yang berbudaya klenik, aji mumpung, sikut menyikut, dan mementingkan diri dan kelompoknya sendiri dengan menghalalkan segala cara.

Ketakutan tidak hanya identik dengan lari. Ketakutan juga bisa menjelma menjadi perlawanan dan tindakan brutal lainnya. Karena saking takutnya, orang takut menjadi tidak punya pilihan kecuali lari atau lawan. Dan bila orang sudah habis akal dan sangat takut orang bisa juga menjadi mati kutu alias diam lunglai tak berdaya.

Oleh sebab itu kita patut bersyukur bahwa Tuhan tidak hanya membekali kita hanya otak limbik yang fungsinya sama dengan otak reptil, yang mana hanya bisa memberikan respon atas aksi dari luar dirinya dengan cara LAWAN, LARI dan MATI KUTU!. Kita diberkahi neokorteks yang merupakan pusat intelek di dalam otak besar manusia . Neokorteks memberikan kita kemampuan kreatif, intuitif, intelektual dan spiritual. Dengan kemampuan dahsyat ini manusia mampu menahan dan mengelola rasa takut agar tidak memberikan respon negative dan merugikan dirinya maupun orang lain.

Meskipun rasa takut akan selalu muncul dalam diri kita, kita harus dapat melampaui keterbatasan fitrah diri kita keluar dari kegelapan masa lampau menuju masa depan yang lebih cerah dengan menggunakan akal budi.Semoga memasuki tahun baru 2008 nanti kita bangsa Indonesia telah memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menyongsong dan menyelesaikan ujian-ujian kehidupannya tidak dengan cara primitif tapi dengan cara yang cerdas dan bermartabat.

No comments:

Post a Comment

 

VISI

Bila kita percaya dunia ini tempat mampir semata maka yakinlah bahwa bekal kita kesana hanya ketaqwaan.

Ketaqwaan adalah karakter manusia unggul , orang yang mempersembahkan sumberdaya terbaiknya bagi kebahagian, keselarasan dan kemaslahatan umat manusia dan alam sekitarnya.